Hari ini benar – benar menetes eluh dipipiku. Meski aku tidak mengalami hal itu namun hanya sekedar melihat, terasa hatiku tak dapat membendung rasa ini. Diceritakan suatu keluarga yang tempat tinggal di pinggi ibu kota Jawa Tengah yaitu Semarang. Dimana yang namanya ibu kota yang penuh dengan gedung – gedung tinggi, rumah – rumah megah tersusun rapi dikota, lampu – lampu hias begitu apik, fasilita kamar mandi bak gedung MPR dan DPR yang akan dibangun dengan menghabiskan dana Milyaran Rupiah itu.
Namun pernahkah ditenggok saja sebentar diujung pojok Ibu Kota itu? Terdapat rumah tinggal yang begitu sederhana, tak ada kamar madi dirumah itu, bila akan membaung air kecil ataupun air besar harus berjalan ketempat wc umum. Namun keluarganya begitu gigih dan memiliki tekad yang besar dalam mencari nafkah. Sang suami yang hanya bekerja mencari biawak, mencari udang dikali dan membuat arang tiap harinya masih beliau jalani demi anak dan istrinya tercinta. Sedangkan sang istri meskipun beliau memiliki penyakit asma dan komplikasi namun kegigihan beliau untuk membantu sang suami dalam mencari nafkah sangatlah perlu diacungi jempol berjuta – juta, dengan mengoreng kripik udang serta jualan minuman di pos dekat rumahnya yang mana pos itu dari sumbangsih warga sekitar namun ibu tetap memberikan yang terbaik untuk warganya meskipun hasil dari jualan itu tak seberapa untungnya. Selain ibu dan bapak yang bekerja, anak mereka pun turut membantu bekerja membersihkan dan memandikan sapi. Padahal diusianya yang beranjak 16 tahun seharusnya ia telah duduk di bangku SMA namun jalan dia itu terhambat karena ibu dan bapak mereka belum dapat melunasi tunggakan uang ujian dan spp sia dibangku smp, sehingga ijasah SMP sia pun diahan oleh pihak sekolah.
Melihat semangat keluarga bapak ini, acara itu memberikan beberapa bingkisan untuk keluarga bapak. Dari bahan sembako hingga membuatkan kamar mandi untuk keluarga bapak tersebut. Sang ibu yang memiliki penyakit asma pun terkejut melihat ini semua. Sambil bercap asma allah sang ibu mengucapkan banyak – banyak terimaksih kepada acara ini atas semua bantuanya. Dan yang paling special sang anak laki – laki itu memberikan sebuah kalung kepada sang ibu. Sang ibu yang terkejutpun hanya mampu menangis sambil berkata “ kowe ora maling tah le?”. Dengan terahru pula sang anak meneteskan air mataya dan menjawab “ ndak bu…”. Suasana haru terpancar saat itu, tiba – tiba air bening menetes dari mataku. Apalagi saat ijasah anak ibu ibu diambil begitu mneyesak rasa hatiku melihatnya. Sang anak begitu bahagia melihat ijasah SMP yang telah ditahan beberapa tahun disekolahnya, begitu pula sang ayah dan sang ibu yang menangis bahagia.
Sungguh tontonan yang menarik dan inspiratif bagiku juga. Agar akku selalu mensyukuri apa yang Allah berikan padaku dan berjuang dengan giat untuk meraih cita – citaku serta dapat membantu orang lain yang kesulitan itu yang paling berharga untuk hidup kita sesame manusia..
Inspiratif from Jika Aku Menjadi…..





0 komentar:
Posting Komentar